Indonesia punya banyak kain indah. Seandainya kita mau melihat, budaya kita sangat kaya dan banyak yang bisa digali. Hal itulah yang menggerakkan, Stephanus Hamy, perancang lulusan Paris American Academy di Perancis untuk menciptakan busana-busana bernuansa kekinian dari bahan-bahan kain yang dibuat secara tradisional (disebut juga wastra dari bahasa Sansekerta) Indonesia.

Hamy, yang memiliki beberapa lini busana, seperti Stephanus Hamy, Stephanus Hamy Studio, Hamy Touch, dan Hamy Culture ini muncul beberapa kali dalam peragaan busana Jakarta Fashion Week (JFW) 2010/2011. Kali pertama, tanggal 8 November 2010, ia muncul bersama beberapa desainer yang turut terlibat dalam pengembangan tenun di Cita Tenun Indonesia (CTI). Dalam kesempatan tersebut ia menampilkan koleksi Swarna Dwipa yang merupakan busana-busana wanita bergaya elegan untuk busana kerja dan santai dari berbagai campuran bahan tenunan.

Kali kedua, Hamy memeragakan koleksinya secara tunggal di panggung JFW pada hari Kamis (11/11/2010). Ia membawakan koleksinya yang bertajuk Cerita Tenun dari Timur. Saat akan memulai pagelaran, Hamy bertutur bahwa ia sudah berkutat dengan tenun dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 8 tahun lalu. Lewat rancangannya, ia ingin memperkenalkan bahwa tak semua tenun NTT itu tebal dan kaku yang sulit dikenakan. Masih banyak kain NTT yang bisa dijadikan busana menarik, modern, stylish, dan fashionable.

Dalam rancangan ini, Hamy bertutur, “Dalam koleksi ini terlihat ada banyak cara untuk mengolah kain tradisional. Bahkan bisa dipakai untuk para perampuan yang memerlukan busana smart casual. Maka, Anda akan bisa melihat busana blazer, jaket, dan rok semi formal yang terbuat dari wastra tenun NTT. Di sana memiliki kain yang bagus, lho, tetapi jarang diperkenalkan. Indonesia tak cuma punya kain batik dan songket. Saya membawa kain NTT ini ke Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Ketertarikannya sangat tinggi dan pemesanannya juga banyak.”

Di hari yang sama, Hamy hadir kembali bersama rekan-rekannya dari Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) dengan membawa koleksi bertajuk Gendongan. Di sini ia ingin membuktikan bahwa wastra Indonesia punya keunikan yang masih bisa digali. “Saya ingin membuktikan bahwa kain tradisional Indonesia itu sangat banyak. Saya membawa kain gendongan, kain yang biasa dipakai untuk menggendong sesuatu, yang merupakan kain dari Jawa Tengah, meski kaku dan keras, tetapi bisa mengakomodir mode global. Kain kaku dan keras semacam rami yang saya peragakan tadi tidak diolah, dan kain-kain ini bisa digunakan untuk menciptakan busana struktural yang sedang tren,” jelasnya.

Tahun ini, Hamy telah menerbitkan tiga buku yakni, Chic Mengolah Wastra Indonesia seri Tenun NTT, Wastra Bali, dan Batik Jawa Barat dan berencana akan mengeluarkan lagi tahun depan untuk wastra dari daerah-daerah lain di nusantara.

“Kain-kain tradisional Indonesia banyak yang bisa mengakomodir gaya mode yang bergejolak di Indonesia,” jelas Hamy. Namun, sayangnya, menurut Hamy, masih ada kendala terhadap konsistensi pengerjaan, baik itu kualitas dan kuantitas, khususnya perajin dari daerah-daerah timur Indonesia, meski di Jawa pun banyak yang juga seperti itu. Ia berharap ke depannya pihak-pihak kepemerintahan dan yang terkait bisa melihat peluang ini dan memeluk para perajin supaya mereka tidak terlupakan dan bisa dibina bersama agar memajukan ekonomi dan budaya Indonesia di mata dunia.

sumber:kompas